Lembaga Survei Jadi Bisnis yang Menguntungkan - Peluang Usaha MenggiurkanAgus Herta Sumarto seorang Peneliti PRIDE Indonesia menyatakan usaha survey ketika pilkada sangat menguntungkan. Hal itu dikarenakan berdasarkan data penelitian PRIDE Indonesia, bisnis survei pemilukada ini bisa mendapat keuntungan sekitar Rp715.500.000.

Biaya satu kali survei kisaran Rp150.000.000 sampai Rp250.000.000 per calon untuk kabupaten/kotamadya. Dan dalam satu tahun minimal tiga kali survei. Jadi potensi ekonomi yang didapatkan dalam bisnis survei opini publik adalah akan menghasilkan uang sebesar 715,5 miliar. Kata agus ini peluang bisnis yang luar biasa. Sehingga banyak pihak yang kemudian berlomba-lomba melakukan survei, bahkan mendirikan lembaga survei.

Cara untuk melihat lembaga survei yang kredibel dan dapat dipertanggungjawabkan keilmiahannya, dapat berdasarkan tiga hal diantaranya, melihat track record lembaga survei, apakah hasil surveinya sering salah atau benar. Kemudian independensi lembaga survei yaitu siapa yang membiayai survei tersebut dan memiliki lembaga konsultan atau tidak.

Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Didik J Rachbini menambahkan dari banyak lembaga survei, hanya beberapa yang cukup independen dan mempertahankan etika ilmiah. Sebenarnya boleh saja lembaga survei menjadi konsultan politik untuk pemenangan kandidat tertentu. Namun, itu harus dilakukan secara transparan atau hasil surveinya hanya ditampilkan untuk internal pemesan. Berbahaya jika lembaga survei mengaku independen, tetapi melabrak kode etik, bahkan menjadi alat kampanye untuk memengaruhi publik.

Tanpa aturan main, manipulasi data oleh sebagian lembaga survei bakal membuat politik karut-marut. Didik pun mendesak semua pemangku kepentingan untuk merumuskan aturan main bersama, termasuk ketentuan sanksi bagi pelanggar aturan itu.